Apa Itu Kamera Mirrorless, Bedanya dengan DSLR?

March 29, 2019

Saat mendengar istilah “interchangeable lens camera” (ILC) alias kamera dengan lensa yang bisa diganti-ganti, biasanya yang terbayang adalah kamera DSLR berikut jajaran lensa berukuran besar dan berat.

Tapi tak semua ILC dapat digolongkan sebagai Digital Single-Lens Reflex (DSLR). Dalam beberapa tahun terakhir, telah beredar ILC jenis baru yang ukurannya jauh lebih ringkas. Kategori kamera ini lazim dikenal dengan istilah Mirrorless ILC (MILC) atau untuk singkatnya “mirrorless” saja.

Apa itu kamera mirrorless? Sesuai julukannya yang berarti “tanpa cermin”, mirrorless sejatinya adalah DSLR yang dihilangkan bagian pemantul cahayanya (mirrorbox).

Tanpa mirrorbox yang berfungsi membelokkan cahaya dari lensa ke jendela bidik optis, ukuran kamera mirrorless bisa dibuat jauh menciut dibandingkan DSLR, sambil tetap mempertahankan kualitas tangkapan gambar dan lensa yang bisa diganti-ganti.

PanasonicDiagram keluaran Panasonic mengenai perbedaan kamera mirrorless Lumix GF1 dan DSLR Lumix L10. Terlihat mekanisme mirrorbox DSLR terdiri dari cermin utama (main mirror) yang membelokkan cahaya dari lensa ke OVF dan sensor metering (AE Sensor), serta cermin kedua (sub mirror) yang membelokkan cahaya ke AF sensor di bagian bawah kamera untuk melakukan autofokus. Sebaliknya, konstruksi mirrorless jauh lebih sederhana karena cahaya diteruskan secara langsung ke sensor gambar, yang kemudian meneruskan hasil tangkapan gambarnya sebagai preview di layar LCD atau EVF.

Antara mirrorless dan DSLR

Lantaran tak memiliki mirrorbox, kamera mirrorless memiliki sejumlah perbedaan mendasar dengan DSLR di samping bentuknya yang relatif lebih kecil dan konstruksi yang lebih sederhana (tanpa komponen mekanik untuk mirrorbox).

Pertama, mirrorless tidak memiliki jendela bidik optik (OVF, optical viewfinder). Proses pembidikan gambar atau framing dilakukan lewat layar LCD atau jendela bidik elektronik (EVF, electronic viewfinder).

Cara kerja EVF sebenarnya sama dengan layar LCD, yakni menyalurkan gambar lewat sensor yang terus menerus aktif. Hanya saja penempatan dan ukurannya yang berbeda, yakni dibuat serupa jendela bidik optis untuk “dikeker” dengan sebelah mata.

EVF memiliki kelebihan dibanding OVF, misalnya pengguna bisa langsung melihat perubahan hasil exposure saat menyesuaikan paramenter seperti aperture, ISO, atau white balance. Bisa pula ditambahkan overlay aneka informasi berguna, seperti level indicator atau histogram untuk memandu exposure.

Kekurangannya, EVF lebih boros daya karena kamera harus senantiasa mengaktifkan sensor dan layar jendela bidik supaya pengguna bisa melihat gambar.

EpsonOVF pada DSLR menayangkan gambar dari lensa (Through The Lens, TTL) dengan membelokkan cahaya melalui mekanisme mirrorbox dan pentaprisma, seperti tampak dalam area berwarna kuning di gambar kiri. EVF pada mirrorless memiliki cara kerja sama dengan layar LCD, yakni menayangkan gambar yang ditangkap oleh sensor. Hanya saja, peletakan dan ukurannya berbeda.

Pengguna DSLR bisa melihat obyek yang ada di depan lensa (Through The Lens, TTL) melalui OVF saat kamera sedang tidak dinyalakan. Ini karena mekanisme mirrorbox meneruskan cahaya dari lensa menuju pentaprisma, lalu viewfinder, tanpa harus mengenai sensor.

Sebaliknya, EVF pada mirrorless akan tampak gelap gulita saat kamera tidak menyala. Jika kamera menyala dan sensor aktif, barulah gambar yang “dilihat” oleh lensa bisa ditampilkan di EVF mirrorless.

Ketika dipakai membidik melalui LCD, baik mirrorless maupun DSLR (lewat Live View) menggunakan prinsip kerja yang sama, yakni meneruskan gambar yang ditangkap sensor ke layar.

Beda sensor

Perbedaan kedua, mirrorless melakukan pengukuran cahaya (metering) dan penguncian fokus langsung dari sensor gambar. Adapun DSLR menggunakan sensor-sensor berbeda untuk keperluan tersebut yang terpisah dari sensor gambar utama.

Sensor metering dan autofokus DSLR masing-masing terletak di atas dan di bawah mekanisme mirrorbox. Cahaya yang masuk dari lensa dibelokkan oleh cermin mirrorbox agar ikut mengenai dua sensor ini (disamping diteruskan ke OVF), untuk melakukan pengukuran cahaya dan fokus.

Saat pengguna menekan tombol shutter, barulah cermin mirrorbox terangkat sehingga cahaya bisa diteruskan ke sensor gambar utama untuk mengambil foto.

Terkesan rumit? Memang demikian. Ini pula sebabnya proses pembuatan DSLR harus dilakukan secara presisi karena banyaknya komponen mekanik yang dilibatkan.

FujifilmKarena pada dasarnya merupakan layar digital, EVF milik kamera mirrorless bisa diatur agar menampilkan berbagai macam hal. Termasuk juga menyajikan dua tampilan berupa jendela utama untuk framing dan inset berukuran lebih kecil untuk mengatur fokus manual, seperti pada EVF milik mirrorless X-T1 besutan Fujifilm ini.

Kamera mirrorless tak memerlukan mekanisme ribet di atas. Kelebihannya, selain ukuran fisik kamera menjadi lebih ringkas, autofokus pada mirrorless relatif lebih akurat dibandingkan DSLR.

Mirrorless mengandalkan teknik contrast detect secara langsung lewat gambar yang ditangkap sensor gambar utama, bukan dengan sensor fokus terpisah yang rawan meleset apabila kalibrasinya kurang presisi.

Memang, meski lebih akurat, proses autofokus pada mirrorless cenderung lebih pelan dibandingkan DSLR karena contrast detect pada dasarnya adalah gerakan memaju-mundurkan mekanisme fokus sampai diperoleh gambar paling tajam, mirip proses fokus manual dengan tangan.

Namun, belakangan para pabrikan mirrorless telah mulai mengejar ketertinggalan dalam hal kecepatan fokus dengan menanamkan mekanisme phase detect pada sensor gambar.

Metode phase detect mampu mendeteksi jarak subyek foto berdasarkan cahaya yang masuk dari lensa -tak harus maju-mundur lebih dahulu seperti pada contrast detect-, lalu langsung mengarahkan motor fokus lensa ke jarak yang sesuai. Metode inilah yang digunakan oleh sensor autofokus terpisah pada DSLR sehingga bisa mengunci fokus secepat kilat dan melacak subyek bergerak (focus tracking).

Mirrorless termutakhir, seperti Alpha A6300 dari Sony dan X-T2 dari Fujifilm yang dibekali teknologi phase detect di sensor gambarnya, bisa dibilang sudah mampu menandingi DSLR dalam hal kecepatan fokus dan pelacakan subyek bergerak.

Baca: Kesan Pertama Menjajal Mirrorless Retro Fujifilm X-T2

Lebih tipis, lebih fleksibel

Lalu perbedaan ketiga terletak pada lensa. Penghilangan mirrorbox berujung pada flange focal distance alias jarak dari dudukan lensa ke sensor gambar yang ikut terpangkas.

WikipediaJarak dudukan lensa ke sensor (ditandai panah merah) pada kamera mirrorless (bawah) lebih pendek dibandingkan DSLR karena tak memiliki mirrorbox. Bodi kamera mirrorless pun bisa dibuat lebih tipis.

Walhasil, meski sebagian besar dari pabrikan kamera mirrorless juga memproduksi (atau setidaknya pernah memproduksi) DSLR, mereka tak bisa serta merta memasangkan lensa DSLR dengan kamera mirrorless.

Perlu dibuat lini lensa baru yang khusus didesain untuk mirrorless, demi menyesuaikan dengan flange focal distance yang lebih pendek tadi dan juga dengan mekanisme fokus langsung dari sensor.

Pengurangan flange focal distance menghasilkan dua keuntungan, yakni bodi kamera mirrorless bisa dibuat lebih tipis, tak “gemuk” seperti DSLR yang mesti menyediakan tempat untuk mirrorbox.

Lensa mirrorless pun biasanya dirancang agar berukuran lebih kecil dibandingkan lensa DLSR yang sekelas. Ingat lensa pancake? Jenis lensa tipis itu dikembangkan supaya cocok dipakai untuk kamera mirrorless.

Keuntungan lain, kamera mirrorless lebih fleksibel soal lensa alias bisa dipasangi lensa-lensa untuk sistem kamera berbeda dengan bantuan adapter, termasuk lensa milik DSLR.

CanonAdapter dipasang di antara lensa dan kamera. Dengan alat ini, kamera mirrorless bisa memakai lensa DSLR.

Adapter ini berfungsi menambah “jarak” antara dudukan lensa dengan sensor gambar untuk mengkompensasi flange focal distance yang terpangkas.

Dalam kebanyakan kasus, penggunaan adapter menghilangkan fungsi-fungsi khusus dari lensa, seperti autofokus dan image stabilizer. Namun ada pula adapter khusus yang mampu menyalakan fungsi-fungsi tersebut lewat kamera mirrorless, misalnya seperti yang dimiliki mirrorless seri EOS-M buatan Canon.

Tentu, kadang lensa DSLR yang besar dan berat kurang cocok dipasangkan dengan kamera mirrorless yang mungil. Karena itu lini lensa native yang khusus didesain untuk mirrorless tetap lebih praktis.

Lebih banyak pilihan

Kamera mirrorless pertama adalah Panasonic Lumix DMC-G1 yang dirilis ke pasaran pada 2008. Ketika itu bentuknya masih menyerupai DSLR dengan bagian “punuk” yang memuat viewfinder.

Beberapa lama setelah Lumix G1, mulai bermunculan kamera mirrorless dengan bentuk yang lebih ringkas, mirip kamera saku dengan lensa yang bisa dicopot, seperti misalnya Pen E-P1 dari Olympus dan Lumix GF1, juga buatan Panasonic.

Kamera mirrorless dengan bentuk lebih ringkas dan tanpa punuk tersebut dikenal dengan sebutan “rangefinder style”, mengacu pada kamera rangefinder jadul yang berbentuk persegi panjang.

Sebagian kamera mirrorless rangefinder style yang ditujukan bagi konsumen awam hanya mengandalkan layar LCD (biasanya layar sentuh) untuk keperluan membidik gambar, tapi sebagian lainnya ada pula yang dilengkapi EVF di pojok kiri atas kamera.

Saat ini mayoritas kamera mirrorless yang beredar bisa dibilang menganut kedua faktor bentuk itu, yakni mirip DSLR tradisional dengan punuk berisi EVF atau serupa rangefinder.

Mana yang lebih cocok tergantung selera pengguna. Ada yang menyukai bentuk ringkas kamera mirrorless ala rangefinder, ada juga yang lebih nyaman dengan bentuk mirrorless ala DSLR dengan handgrip dan banyak tombol untuk pengaturan manual.

Sony, Fujifilm, PanasonicKamera mirrorless yang beredar di pasaran saat ini biasanya memiliki faktor bentuk rangefinder dengan LCD layar sentuh seperti misalnya Alpha A5100 dari Sony (kiri), atau faktor bentuk ala DSLR dengan handgrip dan viewfinder di bagian tengah seperti Fujifilm X-T2 (tengah). Ada pula mirrorless gaya rangefinder yang turut dilengkapi viewfinder disamping layar LCD, seperti Lumix GX8 dari Panasonic (kanan).

Dari dua faktor bentuk tadi, mirrorless sudah lebih beragam dari DSLR yang rata-rata mengusung bentuk serupa, melulu dengan punuk, handgrip, dan bodi montok.

Belum lagi menghitung keragaman jenis sistem (merek) yang tersedia. Berbeda dari pasaran DSLR yang praktis didominasi oleh Canon dan Nikon, jumlah pabrikan yang mencoba peruntungan di ranah mirrorless lebih banyak.

Ada Panasonic dan Olympus yang lensanya bisa saling ditukar, lalu Sony dan Fujifilm, bahkan Leica, di samping dua pemain lama Canon dan Nikon. Ragam aksesori seperti flashgun hingga mikrofon yang  bisa dipasangkan dengan kamera mirrorless pun sudah banyak beredar.

Ukuran sensor yang bisa dipilih juga lebih beraneka jenisnya. Ingin lensa-lensa mungil? Ada pabrikan yang membuat mirrorless dengan sensor sebesar 1 inci atau micro four-thirds. Mau kualitas gambar maksimal? Ada pula pabrikan mirrorless dengan sensor berukuran APS-C dan full-frame.

Satu hal yang mungkin masih menjadi batu sandungan adalah ketersediaan jenis lensa yang belum sebanyak DSLR, terutama untuk seri lensa profesional, super tele atau specialized lens seperti tilt-shift, meski kendala ini sedikit banyak bisa diatasi dengan memakai adapter lensa.

Namun, perlahan tapi pasti, mirrorless mengejar ketertinggalan. Seperti masalah kecepatan fokus yang kini tak lagi menjadi momok, bukan tidak mungkin suatu hari nanti mirrorless bisa menyamai atau bahkan melewati DSLR dalam semua hal.

sumber

Mau Jual atau Cek Stock Laptop dan Kamera bekas kami, klik disini!

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat